Pemerintah melalui Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) tengah melihat e-sport bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai sumber ekonomi baru yang potensial di wilayah desa. Menteri Desa dan PDT, Yandri Susanto, menilai pergeseran minat generasi muda, khususnya Gen Z yang akrab dengan permainan daring, menjadi peluang untuk menciptakan aktivitas ekonomi produktif di desa. Atas dasar itulah, peringatan Hari Desa Nasional 2026 dirangkaikan dengan penyelenggaraan kompetisi e-sport Piala Mendes PDT di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada 13 Januari 2026 sebagai langkah awal pemetaan dan pembinaan talenta muda desa.
Menurut Yandri, selain menjadi ajang kompetisi, turnamen ini menjadi wadah mengarahkan aktivitas bermain game yang selama ini cenderung dilakukan tanpa arah pembinaan jelas, menjadi aktivitas produktif yang bisa memberi nilai ekonomi. “Ada sekitar Rp30 triliun uang rakyat yang selama ini keluar negeri lewat konsumsi game online. Potensi ekonomi ini bisa kita kelola dan kembangkan di dalam negeri, terutama untuk kepentingan desa,” ujarnya seusai final turnamen tersebut.
Potensi tersebut bukan sekadar retorika. Indonesia merupakan salah satu pasar gaming terbesar di Asia Tenggara dan dunia. Indonesia memiliki populasi gamer yang terus tumbuh, dengan jumlah gamer diproyeksikan mencapai hampir 192,1 juta orang pada 2025, menjadikan negara ini sebagai pasar game terbesar di Asia Tenggara berdasarkan jumlah pemain.
Kontribusi industri game yang backbone-nya adalah pemain dan konten digital telah menghasilkan pendapatan tahunan puluhan triliun rupiah melalui konsumsi game, turnamen, sponsor, dan konten digital lainnya.
Pasar e-sport di Indonesia sendiri diperkirakan akan terus berkembang. Proyeksi pasar e-sport Indonesia menunjukkan peningkatan pendapatan secara bertahap dari tahun ke tahun dengan pertumbuhan pengguna aktif yang signifikan. Lebih jauh lagi, data dari industri menunjukkan bahwa e-sport tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi salah satu pendorong perkembangan ekonomi digital yang lebih luas, mulai dari sponsorship, media rights, konten streaming, hingga peluang karier baru di sektor kreatif dan teknologi.
Dorongan terhadap e-sport di desa bukan tanpa dukungan lintas sektor. Pemerintah melalui kolaborasi dengan asosiasi dan organisasi seperti Indonesia Esports Association (IeSPA) berupaya memperluas kesempatan hingga ke wilayah pedesaan. Program-program desa kreatif e-sport diinisiasi untuk mendemokratisasi ekosistem e-sport, membuka akses infrastruktur digital, serta pelatihan bagi generasi muda desa yang ingin berkiprah di bidang kompetitif permainan daring.
Pendekatan ini tidak hanya melibatkan aspek kompetisi saja, tetapi juga membuka ruang bagi munculnya peluang usaha baru: dari penyelenggaraan turnamen, pembinaan atlet dan content creator, hingga pengembangan UMKM digital yang dapat memanfaatkan gelombang ini sebagai mata pencaharian alternatif.
Menjadikan e-sport sebagai kekuatan ekonomi desa adalah sebuah paradigma baru. Ini menuntut dukungan infrastruktur digital, pembinaan sumber daya manusia, dan integrasi dengan sektor ekonomi lain seperti pariwisata, UMKM, dan ekosistem kreatif. Jika dikelola dengan strategi yang matang, dari turnamen lokal desa hingga ke kompetisi tingkat provinsi dan nasional, e-sport dapat berfungsi sebagai entry point bagi anak muda desa untuk terlibat dalam ekonomi digital tanpa harus keluar dari komunitas asal mereka.
Sebuah inisiatif Kemendes PDT ini adalah sebuah pergeseran sadar, bahwa menerima perubahan sosial budaya anak muda dan mengubahnya menjadi kekuatan produktif, bukan sekadar hiburan semata. Mengelola e-sport berarti membuka ruang kreatif baru yang dapat memperkuat kemandirian ekonomi desa, membangun identitas digital, dan menyiapkan generasi yang siap bersaing di era digital global. (Red)