Pagi itu, halaman SD Negeri 5 Bintang, Kampung Kelitu, Aceh Tengah, masih menyimpan sisa-sisa cerita tentang banjir yang belum sepenuhnya pergi. Lumpur mengering di sudut halaman, lantai kelas belum seluruhnya kembali bersih, dan aroma kayu basah bercampur tanah masih tercium di udara pegunungan. Namun, di antara jejak bencana itu, anak-anak kembali berdiri di halaman sekolah dengan seragam yang sebagian masih kusam, mmenandai satu hal: belajar harus tetap berjalan.
Tak ada spanduk penyambutan. Tak ada protokol khusus. Bahkan, pihak sekolah tak menerima kabar sebelumnya. Karena itu, ketika seorang pria dengan kaus sederhana dan topi datang bersama beberapa relawan, suasana sekolah sempat hening. Baru setelah beberapa detik, wajah itu dikenali.
Nicholas Saputra.
Bagi anak-anak, nama itu mungkin belum sepenuhnya bermakna. Tetapi bagi guru dan orang tua, kehadiran seorang publik figur di tengah keterbatasan pascabencana terasa seperti isyarat: bahwa tempat kecil di peta ini tidak dilupakan.
Nicholas datang bersama komunitas Leuser Coffee, sebuah inisiatif yang selama ini dikenal menyalurkan sebagian keuntungannya untuk konservasi alam dan kegiatan sosial di wilayah Aceh. Kali ini, perhatian mereka tertuju pada pendidikan anak-anak korban bencana, sebuah aspek yang sering kali terpinggirkan setelah fase darurat berlalu.
Di hadapan siswa dan guru, bantuan itu dibagikan satu per satu: 120 paket tas sekolah lengkap dengan buku tulis, alat tulis, buku gambar, dan krayon. Jumlahnya memang terbatas, namun di ruang yang sedang berusaha bangkit, benda-benda sederhana itu memiliki makna berlipat.
“Anak-anak sangat membutuhkan ini,” ujar Kepala Sekolah SD Negeri 5 Bintang, dengan suara yang masih menyimpan kelelahan panjang. “Sebagian orang tua kehilangan rumah, kebun kopi, sawah. Banyak yang tidak sempat memikirkan perlengkapan sekolah.”
Aceh Tengah adalah wilayah yang perekonomiannya sangat bergantung pada pertanian dan perkebunan, terutama kopi. Ketika banjir dan longsor menerjang, bukan hanya rumah yang rusak, tetapi juga sumber penghidupan. Dampaknya merambat cepat ke ruang kelas: anak-anak datang tanpa buku, tanpa tas, bahkan dengan kondisi mental yang belum sepenuhnya pulih.
Dalam situasi seperti ini, pendidikan kerap menjadi urusan yang tertunda. Padahal, justru sekolah adalah ruang pertama untuk memulihkan rasa aman anak-anak. Di sinilah mereka kembali belajar duduk rapi, mendengar cerita, menulis mimpi. Meski di luar, orang dewasa masih berjuang menyusun ulang hidupnya.
Nicholas tidak banyak berbicara. Ia lebih sering berjongkok, menyapa anak-anak setinggi mata mereka, menerima uluran tangan kecil yang masih malu-malu. Kehadirannya tanpa seremoni memberi kesan bahwa ini bukan tentang sorotan, melainkan tentang hadir secara utuh.
Selain perlengkapan sekolah, warga terdampak juga menerima bantuan bahan pokok berupa minyak goreng dan gula, kebutuhan sehari-hari yang kini menjadi semakin mahal bagi keluarga yang kehilangan penghasilan. Bantuan ini tidak menyelesaikan segalanya, tetapi setidaknya membuat hari itu terasa lebih ringan.
Dalam konteks yang lebih luas, bencana yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera sejak akhir 2025 telah memukul banyak sektor: pemukiman, kesehatan, ekonomi, dan tentu saja pendidikan. Ribuan anak harus belajar di ruang darurat, sekolah rusak, dan tenaga pendidik bekerja dengan keterbatasan sarana.
Pemerintah dan lembaga kemanusiaan memang telah bergerak, menyalurkan bantuan logistik dan memperbaiki infrastruktur. Namun, kisah dari SD Negeri 5 Bintang menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu datang dalam skala besar. Terkadang, ia hadir dalam bentuk tas sekolah yang baru, buku tulis yang masih bersih, dan perasaan bahwa ada yang peduli.
Seorang guru bercerita, beberapa hari setelah banjir, anak-anak sering diam di kelas. Mereka mudah terkejut saat hujan turun. Ada ketakutan yang belum sempat diberi nama. Di titik itulah, sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung, tetapi ruang untuk menata kembali perasaan.
Ketika kunjungan usai, Nicholas dan rombongan berpamitan tanpa banyak kata. Tidak ada janji besar yang diucapkan. Hanya senyum, salaman, dan langkah yang perlahan menjauh dari halaman sekolah.
Namun, di hari-hari berikutnya, tas-tas sekolah itu akan ikut berjalan bersama anak-anak menuju kelas. Buku tulisnya akan terisi cerita baru. Krayonnya akan memberi warna pada gambar rumah. Mungkin rumah yang belum kembali utuh, tetapi tetap digambar dengan jendela dan matahari.
Di tengah bencana yang sering hanya dipahami lewat angka dan kerusakan, kisah ini mengingatkan bahwa pemulihan sejati dimulai dari hal paling dasar: memastikan anak-anak bisa terus belajar. Karena dari merekalah, harapan Aceh, dan negeri ini, pelan-pelan dibangun kembali. (Red)